Tayang Per 30 Juni 2014
Slider 1 mini Slider 2 mini

Senin, 18 Agustus 2014

Saud Al-Faisal: Kelemahan Kami Membuat Israel Terus Melakukan Pembantaian di Gaza

Kategori:

saud al faisal

Surat kabar "Elaf" pada tanggal 12//214 mempublikasikan berita berikut: Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Saud al-Faisal menilai bahwa kelemahan yang tengah diderita umat Islam telah membuat Israel terus melakukan pembantaian di Jalur Gaza. Kemudian ia mengajukan pertanyaan: "Apakah Israel mampu melakukan agresi demi agresi jika umat Islam bersatu."

Pernyataan Menteri Luar Negeri Arab Saudi ini disampaikan pada awal pertemuan darurat kedua tingkat menteri luar negeri Komite Eksekutif Organisasi Kerjasama Islam di Jeddah, tentang agresi Israel di Jalur Gaza. Sementara itu, al-Faisal adalah kepala sesi ke-41 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi ini.

Al-Faisal menambahkan: "Hal ini penting agar kita tidak lari dari tanggung jawab … Dimana semangat umat Islam, mengapa kita lemah tidak memiliki kekuatan dan ragu-ragu mengambil tindakan … apa yang terjadi pada kita, dan bagaimana kita memperbaiki internal kita sampai kita mampu melawan tantangan yang kita hadapi tanpa ada kelemahan dari internal kita?"

"Bukankah, Israel berani terus-menerus melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina, karena ia melihat kaum Muslim lemah, akibat perpecahan, disintegrasi, dan peperangan yang menyelimutinya, di mana seorang Muslim menghalalkan darah dan kehormatan saudara Muslimnya atas nama agama. Dan bukankah perpecahan ini telah menjadikan umat Islam terbelah dalam sekte-sekte dan kelompok-kelompok, yang membuat kekuatan asing campur tangan dalam urusan mereka, serta mempermainkan potensi dan keamanannya."

*** *** ***

Dalam hal ini, seolah-olah Saud al-Faisal mengungkap apa yang tidak diungkap oleh orang lain, yaitu lemahnya kekuatan, ragu dalam mengambil tindakan, disintegrasi, perpecahan, dan peperangan yang menyelimutinya. Kemudian ia menggiring pendengar kepada apa yang ia inginkan, sebab yang ia maksud dengan "kelemahan" itu bukan karena adanya lebih dari lima puluh entitas monster di negeri-negeri kaum Muslim, namun maksudnya adalah "perpecahan umat menjadi sekte-sekte dan kelompok-kelompok", dan tentu saja juga adanya partai-partai. Kelompok-kelompok inilah penyebab perpecahan, kelemahan, kekalahan dan keragu-raguan dalam mengambil tindakan. Semua inilah yang selalu dinyanyikan al-Saud, para syaikhnya dan murid-murid mereka … Di mata mereka, kalau bukan karena keberadaan partai-partai, kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah ini, niscaya umat ada dengan ribuan kebaikannya. Adapun keberadaan entitas-entitas lemah tak berdaya—termasuk entitas negaranya—, maka itu tidak ada kaitannya dengan kelemahan, kerendahan, kehinaan, keantekan, dan kepengkhianatan; itu bukan penyebab agresi entitas Yahudi di Gaza; dan itu bukan alasan utama hilangnya Palestina. Tidak ada bukti bahwa "pasukan besar mereka" telah membela Palestina, sebab sampai nafas terakhir belum juga memberi bantuannya—sehingga sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang tendensius—Palestina santapan lezat tanpa pertempuran dan peperangan!

Siapa yang mereka tertawakan? Atau kebijakan "meng-keledai-kan umat", menganggap umat tidak berakal, dan tidak berperasaan hingga terus-menerus menceramahinya?

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 26 hari setelah penghancuran Gaza, dan setelah 1.500 orang syahid, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, Raja Arab Saudi mengeluarkan pernyataan terbuka bahwa Gaza sedang mengalami krisis kemanusiaan. Di sinilah Saud al-Faisal tengah mencampur racun dan lemak, sebagaimana rajanya. Kemudian memberikan solusi praktis untuk Gaza dan Palestina, yaitu 300 juta real kepada Kementerian Kesehatan Palestina dan Bulan Sabit Merah, serta 500 juta dolar untuk rekonstruksi, akan tetapi itu semua melalui "koordinasi dengan negara-negara donor", yakni para majikan mereka.

Inikah apa yang dinanti Gaza dan Palestina dari mereka? Apakah dana itu mengembalikan kehidupan seorang anak yang tidak bersalah di Gaza? (Dengan asumsi bahwa dana itu benar-benar sampai).

Benar, bahwa Gaza bahkan seluruh Palestina sedang menanti persatuan umat yang sesungguhnya di bawah kepemimpinan satu orang, yang memimpin umat untuk membebaskan negeri-negeri dan rakyat dari kotoran kaum kafir penjajah. Gaza bahkan seluruh Palestina tengah menanti 1,6 miliar kaum Muslim yang dipimpin oleh satu orang penguasa yang memimpin mereka berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul-Nya, yang akan mengirim tentara menuju Palestina.

Gaza bahkan seluruh Palestina sedang menanti "kehendak" umat sendiri, bukan kehendak negara-negara besar, para majikan bagi penguasa kaum Muslim, yaitu kehendak untuk membebaskan umat dari penindasan para penjajah, baik politik, militer, ekonomi, budaya dan media. Semua inilah yang sedang dinanti Gaza bahkan seluruh Palestina, juga yang tengah dinanti oleh umat Islam, yang dijanjikan kemenangan dan kekuatan, namun itu—akan dibangun—di atas reruntuhan negara-negara pembawa bencana tersebut! [Ir. Hassamuddin Mustafa]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 15/8/2014.

Posted By bandungwebs8/18/2014 01:10:00 PM

Sengketa PLN-Pertamina Ancam Listrik Padam?

Kategori:

pemadaman listrik

Perusahaan Listrik Negara mengatakan berkurangnya pasokan solar dari Pertamina sekitar 50% akan diatasi dengan pasokan dari tempat lain guna mengantisipasi listrik tidak padam.

Pertamina mengurangi pasokan solar sebanyak 50% kepada pembangkit listrik di seluruh Indonesia sejak 10 Agustus lalu.

Langkah ini ditempuh karena PLN belum sepenuhnya membayar solar yang telah mereka terima dari Pertamina, ungkap juru bicara Pertamina Ali Mundakir.

"Pertamina bisa saja menghentikan pasokan saat ini. Karena memang tidak ada dasar hukum kita untuk terus memasok solar kepada PLN. Karena PLN juga membeli dari pemasok lain. Dan itu sudah kita tegaskan di dalam surat kita kepada PLN. Kalau PLN memang tidak ada niat baik, maka kita persilahkan PLN untuk mencari pasokan dari sumber lain," kata Ali Selasa (12/08) di Jakarta.

Namun dua hari sesudah pengurangan pasokan, PLN masih belum merasakan dampaknya, seperti diungkap juru bicara PLN Bambang Dwiyanto.

"Kalau dari sisi PLN, kita akan utamakan kepentingan masyarakat. Kita akan jaga supaya listrik tidak padam, pasokan bahan bakar terjaga. Kalau Pertamina ngurangin yah kita upayakan dari supplier (pemasok) lain," kata Bambang kepada Rizki Washarti dari BBC Indonesia.

Pengamat energi Fabby Tumiwa menjelaskan, perselisihan terjadi karena PLN kerap telat membayar mengingat perusahaan itu bergantung kepada dana yang dicairkan oleh pemerintah.

"PLN kan revenue-nya (keuntungannya) utamanya dari dua sumber. Satu dari pembayaran listrik, dari pelanggan. Yang kedua dari pembayaran subsidi pemerintah kepada PLN. Pembayaran listrik dari pelanggan itu kan baru diterima PLN satu bulan sesudah listrik itu dipakai. Lalu kemudian, penerima pembayaran untuk subsidi PLN akan lebih lama," jelas Fabby.

Dampak kepada warga

Perseteruan PLN dan Pertamina mengenai pasokan solar dicemaskan makin memperparah ketidakpastian pasokan listrik ke rumah-rumah.

Di berbagai daerah, warga sering mengalami pemadaman listrik, jauh sebelum terjadi pengurangan pasokan BBM dari Pertamina kepada PLN.

Di Medan, misalnya, pemadaman listrik sudah sering terjadi terutama dalam sepekan ini, kata warga Medan, Tetty Batubara.

"Dampaknya banyak, khususnya untuk aktivitas-aktivitas di rumah tangga. Khususnya ibu-ibu rumah tangga yah, tidak bisa melakukan aktivitas kalau di pagi hari. Kalau di malam hari, kita juga susah untuk melakukan aktivitas (selain) tidur, pastinya," ucap Tetty Batubara.

Pertamina, PLN, Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan dijadwalkan untuk bertemu Rabu (13/08) guna membahas permasalahan ini. (bbc.co.uk, 14/8/2014)

Posted By bandungwebs8/18/2014 01:07:00 PM

Felix Siauw: Intoleransi Pelarangan Kerudung di Bali

Kategori:

felix pelarangan jilbab di bali

JAKARTA - Mengecam pelarangan penggunaan kerudung di Bali, Ustadz Felix Siauw mengatakan bahwa pelarangan itu mencirikan sikap intoleransi dan pelanggaran hak asasi. "Ini juga menunjukkan ketidakpahaman pemerintah Bali, bahwa kerudung bagi muslimah bukan pilihan tapi kewajiban," twittnya, Jumat (15/8).

Bukan persoalan baru pelarangan kerudung di Bali. Sebelumnya, Anita pelajar SMA Denpasar mendapat pelarangan penggunaan kerudung di Sekolahnya. Dari sikap itu jelas bahwa isu toleransi hanya digunakan kepada umat Muslim mayoritas. Padahal, tegas Felix, di saat muslim berada di wilayah minoritas toleransi hanya isapan jempol.

"Sekarang menjadi jelas, bahwa isu toleransi hanya digunakan saat Muslim mayoritas, di saat Muslim minoritas, toleransi cuma isapan jempol," kritiknya.

Penulis buku Muhammad Al-Fatih 1453 ini juga mengkritik alasan pelarang penggunaan kerudung dengan alasan tidak sesuai dengan kearifan lokal di Bali. "Ini justru lucu dan absurd, atau malah mempertontonkan kesombongan lokal," tulisnya.

Felix berharap pemerintah tidak tinggal diam untuk menyelesaikan kasus ini, pemerintah dan pihak berwajib harus turun tangan menyelesaikan masalah ini segera.

"Jangan sampai inilah yang mengancam NKRI, kita khawatirkan bakal ada anti-hindu di wilayah lain yang justru kontraproduktif bagi kerukunan umat beragama," kicaunya. (mediaumat.com, 17/8/2014)

Posted By bandungwebs8/18/2014 01:05:00 PM