» » Bojonegoro Gelar "Gerebek Tikus"

Bojonegoro - Hama tikus yang menyerang areal tanaman padi milik warga sepekan ini mulai meresahkan. Tak hanya petani dan warga, pemerintah pun merasa perlu untuk ikut turun tangan langsung menyelesaikan. Di Persawahan Desa Prigi Kecamatan Kanor, Selasa (12/6) pagi tadi, dilakukan "Gerebek Tikus"  dengan menggunakan Empusan, yakni alat bong yang didalamnya terdapat jerami dan belerang. 

Bojonegoro, Hama tikus yang menyerang areal tanaman padi milik warga sepekan ini mulai meresahkan. Tak hanya petani dan warga, pemerintah pun merasa perlu untuk ikut turun tangan langsung menyelesaikan. Di Persawahan Desa Prigi Kecamatan Kanor, Selasa (12/6) pagi tadi, dilakukan "Gerebek Tikus"  dengan menggunakan Empusan, yakni alat bong yang didalamnya terdapat jerami dan belerang.

Puluhan warga dari Desa Kanor, Prigi serta warga desa lainnya bersama Bupati Bojonegoro, Kang Yoto yang didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian, Subekti dan Camat Kanor, Ahmad Darmawan ikut berburu hama tikus dipematang sawah. Tidak hanya dominasi pria namun juga kaum perempuan ikut berpartisipasi. 

Bupati dihadapan warga menyampaikan bahwa hama tikus ini sudah terjadi sepekan dan ini membuat para petani kita frustasi karena hamparan tanaman padi yang siap panen ludes terserang hama pengerat ini hanya dalam satu malam. Disaat banyak harapan yang digantungkan oleh petani, begitupun biaya yang telah dikeluarkan untuk menanam padi. Bupati menjelaskan bahwa serangan hama ini karena tidak adanya musuh alami tikus seperti ular dan kucing. Populasi hewan pemangsa ini bisa dikatakan hilang dalam ekosistem sawah saat ini. Menurut Bupati, tikus ini tidak hanya terjadi diwilayah Kecamatan Kanor saja namun juga di beberapa desa di Kecamatan Malo. Penanganan ini bisa dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan menggunakan alat empusan, jerami dan belerang dibakar dan asapnya dimasukan dalam lubang-lubang tikus yang ada dipematang sawah. 

Ditambahkan, Bupati Suyoto bahwa, dalam beberapa hari ini wilayah Bojonegoro akan diguyur hujan dan awan mendung menyelimuti wilayah Bojonegoro. Perubahan cuaca harus diperhatikan oleh petani dan para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) agar menyebarluaskan informasi kepada petani. Terlebih lagi bagi yang akan menanam padi, harus diingat bahwa ketersediaan air di waduk pacal tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan areal persawahan di Bojonegoro. Selama ini, tidak dihitung berapa ketersediaan air dan jumlah luas areal pertanian, sehingga kadang ada terjadi kekeringan dibeberapa titik. Pengalaman ini harus menjadi perhatian yang serius terlebih lagi jika sawah tersebut merupakan sawah tadah hujan. Jangan memaksakan menanam padi dan mengharap air dari waduk pacal. Oleh karenanya PPL harus aktif memberikan penyuluhan utamanya tentang potensi air, ketersediaan pupuk serta berapa potensi baik keberhasilan maupun gagalnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Subekti menjelaskan, bahwa SLPTT ini diwilayah Bojonegoro dengan luasan mencapai 7.640 hektar, sedangkan untuk wilayah Kecamatan Kanor luasan mencapai 450 hektar. Setiap hektarnya ini mereka akan mendapatkan benih padi 25 Kilogram selain itu juga akan mendapatkan bantuan pupuk serta obat-obatan. Perlu diingat bahwa bantuan yang diberikan adalah gratis dan tidak ada pungutan yang dilakukan oleh pihak manapun. Dengan adanya SLPTT ini akan menambah wawasan dan pengetahuan dari para petani kita tentang cara tanam, pola pemupukan serta penanganan hama yang tepat dan aman.

Kasidin warga Desa Prigi ketika ditemui humas disela-sela kegiatan sekolah lapang ini menjelaskan bahwa tikus ini tidak hanya menyerang tanaman padi yang siap panen namun juga tebaran benih padi milik petani. Menurut Kasidin, menggunakan perangkap tidak efektif karena hanya menangkap satu atau dua tikus semalaman. Sebenarnya selama ini petani menggunakan metode aliran listrik namun ini dinilai kurang aman karena membahayakan. (Ly/Jtm)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama