» » Jabar Tingkatkan Peluang Pasar Komoditi Kopi

Bandung - Saat ini, minat masyarakat atas komoditas kopi kian meningkat. Potensi tersebut menjadi perhatian pihak Pemprov. Jabar. Untuk merespon kian meningkatnya minat konsumen terhadap kopi, peluang pasar terus ditingkatkan, papar Kadisbun Jabar, Ginanjar dalam keterangannya kepada wartawan di sela-sela festival kopi dan teh di Ciwalk Kota Bandung (7/7).
 
Ginanjar, lebih lanjut memaparkan mulai tahun 2000an hingga sekarang sejalan dengan terjadinya peningkatan konsumsi kopi di seluruh negara di dunia, untuk komunitas kopi dunia mulai bergeser mencari kopi single origin untuk memuaskan hasrat dan selera mengkonsumsi kopi.
 
Fakta tersebut, menjadi peluang bagi tumbuh dan berkembangnya kopi-kopi spesialty dari tiap daerah di Indonesia, dengan adanya keunikan agroklimat di masing-masing wilayah, maka tiap daerah memiliki peluang untuk membangun agribisnis kopinya masing-masing dan membentuk harga sesuai keunggulan kopinya.
 
Khusus untuk Jabar, peluang pemasaran kopi single origin menjadi kesempatan yang saat baik untuk memposisikan agribisnis kopi spesialty menjadi kegiatan unggulan dalam pembangunan  ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan devisa dan perbaikan lingkungan hidup.
 
Bagi masyarakat perkebunan, adanya peluang tersebut telah mendorong motivasi dan motif untuk membangun agribisnis kopi di masing-masing wilayah, namun masih adanya tantangan berupa penguatan posisi tawar, sistem permodalan yang belum terbentuk dan mekanisme pasar yang belum tertata menjadi permasalahan dan hambatan dalam pengembangan kopi spesialty.
 
Ginanjar, lebih lanjut memaparkan konsumsi kopi per kapita di Indonesia relatif rendah dibanding negara lain, dengan konsumsi sebesar 560 gram/kapita/tahun. Untuk pencapaian tersebut, Indonesia termasuk dalam kategori tingkat konsumsi yang amat rendah di dunia, karena dibawah 1 Kg/kapita/tahun.
 
Kendati demikian, konsumsi tersebut tetap mengalami peningkatan sebesar 6% per tahun dan kenaikan ini sangat menguntungkan bagi agribisnis perkopian di Indonesia. Khusus di Jabar, produksi kopi sebesar 13.732 ton dari luas pertanaman 29.994 dan produktivitas 882 Kg/Ha.
 
Adapun produksi kopi Jabar di kalangan konsumen dunia lebih dikenal sebagai kopi Java Preanger yang meliputi seluruh wilayah Priangan yang secara agroklimat sesuai untuk budidaya tanaman kopi arabika yaitu dataran tinggi yang memiliki ketinggian tempat 1.000 m dpl ke atas.
 
Sementara itu, untuk wilayah pengolahan, pada dasarnya mencakup seluruh lokasi di wilayah Priangan yang memiliki fasilitas sarana dan prasarana untuk melakukan proses pengolahan kopi. Di sisi lain, untuk wilayah budidaya meliputi dataran tinggi Priangan yang secara administrasi berada di wilayah Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis. Adapun luas areal potensial untuk budidaya kopi arabika Java Preanger secara keseluruhan adalah sekitar 662.550 Ha.
 
Adanya potensi yang besar untuk kopi Jabar, ujar Ginanjar melalui Festival teh dan kopi diharapkan dapat mengapresiasi kebutuhan pasar maupun meningkatkan pangsa pasar yang ada, juga dapat meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat baik dalam bentuk makanan maupun minuman. (Ly/Jbr)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama