» » “Rumah Angkat” Solusi Penurunan Muka Tanah

Fenomena alam yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir, terutama di dataran rendah pantai (seperti wilayah Pantura), adalah penurunan muka tanah (land subsidence) secara signifikan. Land subsidence ini mengakibatkan masuknya air laut ke daratan yang disebut rob, karena muka tanah lebih rendah dari muka air laut. Di beberapa wilayah, ketinggian air rob sampai masuk kedalam rumah/pemukiman warga dan sangat merugikan mengingat air rob adalah air laut yang mengandung garam dan mempunyai daya rusak tinggi.

Sebagaimana diungkapkan Dr. Ir. Nelwan, Dipl.HE. dalam Semiloka Kerjasama Pengelolaan Sumber daya Air sebagai rangkaian kegiatan Peringatan Hari Air Dunia 2013 Tingkat Provinsi Jawa Tengah, baru-baru ini. Lebih memprihatinkan lagi, ketinggian rob setiap tahun selalu bertambah sebagai akibat proses penurunan muka tanah terus berlanjut.

Sampai saat ini tampaknya penurunan muka tanah belum mendapat penanganan yang serius untuk meminimalisir atau mengeliminir gejala ini. Kita harus menyimak apa sebenarnya akar permasalahan yang menjadi penyebab utama dari penurunan muka tanah.

Nelwan mengemukakan dari hasil penelitian, diperoleh kesimpulan yang menyebutkan beberapa penyebab utama land subsidence, yaitu antara lain :

-    Pengambilan air tanah secara besar-besaran seiring dengan pertumbuhan kebutuhan akan supply air, baik untuk industri maupun untuk keperluan masyarakat. Sekalipun usaha dan kampanye pembatasan pengambilan air tanah telah banyak dilakukan (melalui Perda dll), namun sangatlah sulit untuk meng-implementasi-kannya, karena penyediaan air oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang mengolah air permukaan menjadi air layak pakai tidak dapat mencukupi kebutuhan.

-       Tanah di dataran pantai yang merupakan hasil endapan (tanah alluvial) bersifat lunak dan sensitive terhadap proses pemadatan (compression) dan longsoran (sliding). Pengembangan wilayah pantai seiring dengan pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan pembebanan terhadap lapisan tanah dan mempercepat pemadatan yang berakibat penurunan muka tanah.

-      Terganggunya keseimbangan garis pantai, antara lain akibat pengembangan pelabuhan yang perlu memperdalam kolam pelabuhan dengan pengerukan (dredging), seringkali mengakibatkan longsoran (sliding) lapisan-lapisan tanah yang lunak tersebut. Sebagai akibatnya adalah penurunan muka tanah diatasnya. Sebagai gambaran penurunan muka tanah di wilayah sekitar Pelabuhan Tanjung Emas - Semarang, mencapai angka 20-25 cm per tahun.

Penurunan muka tanah jelas berakibat pada sistem pembuangan air ke laut. Karena muka air laut lebih tinggi dari muka tanah, maka pembuangan air tidak bisa lagi secara gravitasi dan mengharuskan kita menggunakan pompa. Hal ini jelas akan berakibat pada kenaikan biaya (cost) sistem drainase/pengendalian banjir, karena diperlukan dana khusus untuk investasi, operasi dan pemeliharaan peralatan tersebut.

Sampai saat ini upaya untuk mengatasi (mengurangi/mengeliminir) penurunan muka tanah belum dilakukan secara sungguh-sungguh baik oleh masayarakat maupun pemerintah. Upaya pemerintah baru sebatas membuat regulasi atau peraturan untuk membatasi pengambilan/pemanfaatan air tanah, dengan maksud meminimalisir dampaknya terhadap land subsidence.

Beberapa upaya langsung yang sebenarnya dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan muka tanah adalah :

-    Pengisian kembali air tanah (ground water recharge), yang bisa dilakukan secara sederhana oleh masyarakat (perlu sosialisasi) atau dilakukan pemerintah dengan skala besar dan instalasi khusus untuk itu. Di negara-negara lain yang menyadari akan bahaya yang ditimbulkan akibat kekosongan air tanah, pengisian kembali air tanah ini benar-benar dilaksanakan secara intensive.

-      Membatasi pembebanan terhadap dataran pantai dan gangguan terhadap keseimbangan garis pantai untuk menghindarkan proses pemadatan cepat dan longsoran lapisan tanah yang berakibat penurunan muka tanah. Khususnya pengembangan pelabuhan di beberapa wilayah perlu ditinjau kembali dengan kemungkinan relokasi atau redesign.

Gagasan pembuatan 'rumah angkat' ini ter-inspirasi oleh keadaan di wilayah yang mengalami penurunan muka tanah (land subsidence) dengan nilai penurunan besar (lebih dari 5 cm per tahun). Rumah-rumah yang semula cukup tinggi, dalam kurun waktu yang relative singkat 'ambles'. Sehingga pada saat laut pasang atau hujan besar, air masuk kedalam rumah.

Pada umumnya pemilik rumah langsung memilih solusi dengan menaikkan lantai rumah atau bahkan membongkar rumah untuk menaikkan seluruh bangunan rumah, baik lantai maupun atapnya. Karena proses penurunan muka tanah ini terus berjalan dan tak kunjung berhenti, maka dalam waktu beberapa tahun kemudian rumah perlu dinaikkan lagi. Seperti kita ketahui untuk menaikkan rumah membutuhkan biaya besar dan sangat merepotkan serta mengganggu kehidupan warga pemilik rumah.

Pada prinsipnya bangunan yang disebut "rumah angkat" atau "liftable house" adalah bangunan dimana koneksi struktur atas (upper structure) dan struktur bawah (lower structure) tidak menyatu mati sebagai fixed-joint. Hal ini memungkinkan kita untuk mengangkat struktur atas (termasuk lantai) terpisah dari struktur bawah (pondasi).

Dengan teknik yang cermat, struktur atas bangunan rumah dapat diangkat tanpa membongkar atau merusak isi rumah. Pengangkatan dapat dilakukan dengan peralatan umum yang banyak dipergunakan di dunia teknik, seperti jack (dongkrak), lifting crane, dan lain-lain.

Pada saat dilakukan proses pengangkatan struktur atas bangunan, ruang kosong di atas pondasi lama diisi dengan 'supporting material' khusus yang telah disiapkan, sehingga posisi ketinggian bangunan sesuai dengan yang diharapkan. Setelah proses pengangkatan dan pengisian supporting material selesai, berarti posisi bangunan sudah lebih tinggi dari sebelumnya, dan pekerjaan berikutnya adalah finishing/pembenahan struktur bawah (konstruksi pondasi).

Dengan pertimbangan ekonomis dan kemampuan peralatan, sistem 'rumah angkat' ini masih layak (reasonable) untuk bangunan rumah berlantai 2 (dua). Biaya investasi awal mungkin sedikit lebih tinggi dari rumah konvensional. Namun biaya untuk menaikkan rumah setelah beberapa tahun kemudian akibat penurunan muka tanah akan jauh lebih murah. Disamping itu proses pengerjaannya jauh lebih praktis, cepat, dan tidak merepotkan atau mengganggu kehidupan warga.

Mudah-mudahan gagasan 'rumah angkat' ini bisa merupakan solusi bagi warga di wilayah yang mengalami penurunan muka tanah. Karena sampai saat ini upaya dan keberhasilan untuk menanggulangi penurunan muka tanah belum tampak, dan proses land subsidence ini terus berjalan. Dengan sistem 'rumah angkat' ini diharapkan masyarakat dapat menghemat biaya perbaikan rumah yang cukup besar. Dan sekaligus akan dapat menurunkan biaya hidup (living cost) secara signifikan. (ly/jt)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama