» » Wagub DKI: Jakarta Memiliki Potensi Gesekan

JAKARTA -  Jakarta sebagai kota metropolitan dan keberagaman yang tinggi, memiliki potensi gesekan-gesekan, pertikaian antar-geng ditambah lagi karakter warga Jakarta yang individualis, sehingga dapat meresahkan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjayaha Purnama yang dibacakan Kepala Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta, I. Gamal Sinurat MT pada sambutannya pada pembukaan dialog pengembangan wasasan multikultural di Jakarta, Selasa (25/6).

Era teknologi informasi dan kebebasan berekspresi, menurut dia, turut menambah kompleks dinamika sosial kemasyarakatan. Di sisi lain, mentalitas menjunjung tinggi kebersamaan terus terkikis dan kian memprihatinkan.

Acara yang dibuka Kepala Litbang dan Diklat Kementerian Agama Prof. Dr. Machasin MA tersebut diikuti para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Ia mengatakan, di Jakarta telah terjadi kompetisi dalam memperebutkan sumber daya ekonomi yang terbatas. Karena itu gesekan antar-kelompok berpotensin terjadi di ibukota.

Namun sebagai etalase Indonesia, Pemda DKI Jakarta berkomitmen mengatasi permasalahan multicultural. Tak semata membangun fisik, tetapi membangun karakter warganya. Dan pembangunan interaksi publik tarus dilakukan. Namun juga harus memperhatikan adat istiadat dan kepentingan bersama.

"Kita yakini bahwa dengan memberi ruang untuk berinteraksi, semakin terbuka terhadap perbedaan yang ada. Hal ini merupakan modal membentuk karakter warga kota menghadapi perbedaan," katanya.

Ia mengakui permasalahan yang ada di Jakarta itu tak dapat diselesaikan sendiri. Perlu partisipasi elemen masyarkaat, termasuk peran aktif para pemuka agama dalam membangun kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan.

Sebelumnya Machasin menjelaskan bahwa kegiatan dialog ini dinilai penting karena isu utama yang didialogkan berkaitan dengan upaya pengembangan wawasan multicultural, wawasan kebangsaan, meningkatkan keterbukaan dan saling pengertian, menghargai di antara pemimpin agama baik pusat maupun di daerah.

Jadi, tema yang aktual, menarik, dan strategis. Terutama dalam kaitan mencari formulasi efektif mengelola kemajemukan masyarakat Indonesia. Yang tak kalah penting dari kegiaan ini dapat dijadikan katalisator bagi akselerasi komunikasi antarpemuka agama pusat dan daerah, mata rantai pengingat kebersamaan.

Terlebih kegiatan ini diselenggarakan di Jakarta yang berpenduduk heterogen secara etnis, bduaya dan agama. Pemerintah, kata dia, berkewajiban menjaga dan merawat kemajemukan budaya. Di sisi lain juga berkewajiban membuat regulasi dan pedoman dalam menjaga kemajemukan agar terpelihara dengan baik, katanya menjelaskan.(ly/depag)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama