» » Tim Penilai : Pemkot Bandung Banyak Lakukan Hal Positif dan Terobosan Baru

BANDUNG - Tim penilai lomba tertib lalu lintas dan angkutan kota tahun 2013 melihat banyak hal positif dan terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung dengan jajarannya. Hal tersebut dikemukakan oleh Eddy Gunawan, selaku ketua tim penilai, di Ruang Tengah Balai Kota Bandung, Selasa (23/7), setelah melakukan pengamatan di Kota Bandung selama dua hari.

Eddy pun mengharapkan dengan terobosan dan strategi yang diterapkan tersebut menjadi solusi dari beberapa permasalahan yang ada seperti, angkutan, lalu lintas, dan ketertiban dari penggunanya sendiri.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk penilaian lomba tersebut, dirinya bersama tim, menilai dua puluh aspek, dan beberapa ruas jalan yang ada. “Beberapa aspek yang kita nilai, diantaranya seperti angkutan umum, terminal, ruas jalan, marka jalan, trotoar, rambu lalu lintas, halte, Zebra Cross, alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL), jalur sepeda, tempat pengujian kendaraan bermotor, dan disiplin penggunanya sendiri, sedangkan untuk ruas jalan yang dinilai diantaranya, Jalan Merdeka, Asia Afrika, Ir. H. Djuanda, Ahmad Yani, dan Supratman,” jelasnya.

Secara umum menurutnya, dari beberapa aspek yang dinilai itu kondisinya cukup bagus dan sesuai dengan aturan yang ada, misalnya saja untukk terminal Cicaheum dan Leuwi Panjang, jalur kedatangan dan keberangkatan sudah jelas, kemudian ada temaot untuk menunggu, dan juga ada papan petunjuk jalur keberangkatan. Tetapi dirinya pun memberikan beberapa catatan, dari beberapa lokasi yang di amatinya seperti, rambu-rambu lalu lintas yang tertutup pohon, atau juga beberapa marka jalan yang pudar.

Saya pun secara khusus mengapresiasi, tempat pengujian kendaraan bermotor yang ada di Gede Bage, karena fasilitasnya cukup lengkap, kemudian antiran untuk yang akan di uji pun menggunakan nomor, sehingga meminimalkan praktek percaloan. “Dari empat jalur yang disediakan, tidak semuanya ada alat ujinya, sehingga sebaiknya ke depannya agar di tambah lagi,” ucapnya.

Eddy juga menyoroti masalah kemacetan yang merupakan, sesuatu hal yang tidak bisa dihindari, dan merupakan masalah dari beberapa kota besar. “Kemacetan ini merupakan sesuatu hal yang bukan hanya dihadapi Kota Bandung, tetapi juga beberapa Kota besar pun mengalami hal yang sama,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Eddy melihat apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung, dengan penerapan angkutan massal, program 4 in 1, merupakan beberapa cara untuk mengurangi kemacetan dan penggunaan kendaraan pribadi.

“Sehingga ke depannya di dorong agar angkutan massal ini agar lebih baik lagi pelayanannya,” tegasnya.
Permasalahan angkutan kota, bukan hanya permasalahan teknis saja, menurut Eddy, tetapi juga perlu dilihat sebagai permasalahan sosial. Sehingga menurutnya, mengatasinya juga harus dengan pendekatan sosial seperti halnya juga dengan permasalahan pedagang kaki lima.

Ketua tim juga melihat permasalahan rambu lalu lintas yang oleh sebagian orang banyak dilanggar, menurutnya hal tersebut adalah mengenai kesadaran dari pengguna kendaraan untuk dapat menghormati dan mentaatinya. Dirinya pun menghimbau agar para pengguna jalan, dapat mentaati rambu-rambu yang ada.
 
Sementara itu, menurut Wali Kota Bandung dalam sambutannya yang dibacakan oleh Plt Sekda Kota Bandung Yossi Irianto, selain aktivitas manusia dan per-tumbuhan penduduk yang relatif tinggi, kemacetan juga terjadi karena bangunan liar, pasar tumpah, pkl, ketidakdisiplinan pengguna kendaraan, serta tingginya volume kendaraan yang keluar-masuk kota bandung. data tahun 2011 menunjuk-kan rata-rata kendaraan yang masuk ke melalui pintu tol sebanyak 15.572 per hari dan keluar melalui pintu yang sama mencapai 12.466 per hari.

“Begitu pula dari aspek pertumbuhan dan jumlah kendaraan bermotor, rata-rata pertumbuhan sejak tahun 2003 hingga 2010 mencapai 11% per tahun dan secara kuantitatif mencapai 1,2 juta pada tahun 2010, terdiri atas 356.714 kendaraan bermotor roda empat atau lebih, serta 859.411 kendaraan roda dua,” jelasnya.

Terhadap kenyataan itu, menurutnya pemerintah mengembangkan sistem transportasi massal yang secara teknis dituangkan dalam master plan transportasi bandung metropolitan area dan master plan transportasi Kota Bandung.

“Sejak tahun 2009 hingga kini pemkot bandung telah mengoperasikan 20 bus TMB (Trans Metro Bandung) untuk melayani koridor 1 cibeureum – cibiru tahun 2009 dan koridor 2 cibeureum – cicaheum guna menyertai armada damri yang beroperasi selama ini, dan insya allah jenis angkutan ini akan terus dikembangkan,” pungkasnya. (LY)

Kirim Komentar :

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama