» » Taman Tematik Taman Sehat


Taman Tematik Taman Sehat
Menuju Bandung Juara dengan konsep smart city,
liveable city dan sustainable city


Seiring dengan trend penataan kota di seluruh dunia yang mengarah pada konsep smart city, liveable city dan sustainable city, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berupaya menyesuaikan paradigma tersebut.

Konsep smart city, liveable city dan sustainable city dari segi keindahan, Pemkot Bandung pun akan menata taman yang ada hampir 600 taman di Kota Bandung akan dijadikan taman tematik.

“Kita ini memiliki hampir 600 taman dan sudah ada 30 taman yang akan dijadikan taman tematik, seperti taman Forotgari, taman superhero, taman dinosaurus, dan taman dengan tematik lainnya. Seperti Taman Cempaka yang  mengangkat tema taman fotografi, sehingga nantinya apabila ingin pameran fotografi tidak harus di galeri cukup di taman ini saja,” ujar Ridwan Kamil.

Ridwan kamil juga mengharapkan nantinya di setiap taman akan ada satu bangunan kecil
untu
k perpustakaan, toilet dan penjaganya, yang akan menjaga taman tersebut. 

Dengan keberadaan taman yang tersebar di seluruh wilayah kota Bandung ini, juga mendorong peningkatan pola hidup sehat masyarakat. Dikolaborasikan dengan pengolahan sampah rumah tangga untuk bahan kompos organis pertanian dan juga melakukan pembinaan rumah sehat, bedah rumah, penghijauan serta pengolahan sampah/limbah, daerah bebas banjir menjadi permukiman yang sehat.

Semua itu lah yang menjadikan Pemerintah Kota Bandung Dianugerahi Kota Sehat Oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang diterima Walikota Bandung, Ridwan Kamil di Jakarta.

Ucapan syukur pun Meluncur dari orang nomor satu di Kota Bandung, “"Alhamdulillah, Kota Bandung mendapatkan  penghargaan Kota Sehat Indonesia, “ ujar Kang Emil sapaan akrabnya.

Sedangkan  dari segi Pertanian dan Ketahanan Pangan, Ridwan Kamil memiliki ide untuk melaksanakan setiap hari senin tanpa nasi. Hal ini pun, cukup beralasan. Disamping berkaitan dengan puasa sunah Senin Kamis yang dijalankan umat muslim Kota Bandung, pengurangan konsumsi beras pun bisa diminimalisir.

“Kalau daerah lain ada program sehari tanpa beras, karena di Bandung mayoritas muslim mungkin upaya sosiologis dengan puasa senin dan kamis dapat mengurangi konsumsi beras,” ujarnya.

Sedangkan untuk mengurangi kertergantungan pangan dari daerah lain, M. Ridwan Kamil menyarankan agar dilakukan urban farming. “dengan urban farming mudah-mudahan bisa mengurangi ketergantungan kepada daerah lain,” ucapnya.

Dia mencontohkan daerah Havana, Kuba, progam urban farmingnya berjalan dengan bagus, mereka bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. “Di Bandung pun alam jangka waktu 3 tahun Insya Allah urban farmingnya bisa juara,” jelasnya.
Caranya menurut M. Ridwan Kamil, agar memanfaatkan setiap jengkal halaman yang ada untuk dilakukan urban farming. Sehingga nantinya minimal warga bisa memenuhi kebutuhannya sendiri terlebih dahulu.

Selain itu untuk menjaga ketahanan pangan Kota Bandung, wali Kota juga menyarankan kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan agar melakukan kerjasama dengan daerah pensuplai, sehingga ada jaminan pasokan pangan.

Senada dengan Wali Kota Bandung, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Kota Bandung Elly Wasliah, sependapat agar Kota Bandung dapat mengurangi ketergantungan akan kebutuhan pangan dari daerah lain. Menurut catatannya saat ini ketergantungan Kota Bandung dalam memenuhi kebutuhannnya hampir mencapai 96%.

Salah satu contoh urban farming yang berhasil dilakukan oleh warga menurut Elly adalah di Kecamatan Ujungberung, Kelurahan Pasanggrahan, RW 09 sudah bekerja sama dengan Martabak asia dan menyediakan bawang daun sebanyak 10 kilogram dalam satu hari.

“Jadi selain memenuhi kebutuhannya sendiri, hasil urban farmingnya dapat menambah penghasilan bagi warga,” jelasnya. (ADV)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama