» »Unlabelled » Liberalisme, Pluralisme dan Komunisme Merusak Islam

BEKASI - Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Bekasi, Ahad 23 Agustus lalu, mengadakan pengajian di masjid Al Jihad, komplek perguruan Muhammadiyah, Jl. Ki mangunsrkoro, kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Beksi Timur, kota Bekasi, Jawa Barat.

Pengajian bulanan ini menghadirkan nara sumber H. Abu Deedat Syihab, M.Si, Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Bekasi, yang juga sebagai Wakil Ketua  Komisi Dakwah Khusus, MUI Pusat. Topik kajian adalah " Mencermati Faham Liberal dan Bangkitnya Gerakan atheis Muda"

Menurut Abu Deedat,  merebaknya faham atheisme di kalangan pemuda Indonesia,  karena mendapat dukungan dari faham liberalisme.

"Banyak generasi muda Indonesia yang tertarik dengan atheisme  karena mendapat dukungan dari orang-orang yang menganut faham liberal, dan pluralisme" ungkap Abu Deedat.

Jadi tak heran katanya, jika akhir-akhir ini paham komunis yang bersaudara dengan faham atheis, mulai kembali menunjukkan jati dirinya setelah 50 tahun Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan, menyusul pemborontakan Gerakan 30 September 1965 (G 30 September)  yang dilakukan oleh PKI.

Kemunculan PKI gaya baru,  tak dapat dilepaskan dari semakin longgarkan kotrol pemerintah terhadap gerakan komisi di Indonesia.  Hal itu kata ustadz yang digelari ahli kristologi ini,  dapat dilihat dari munculnya simbol-simbol PKI berupa palu arit pada saat karnaval HUT RI di Sampang Madura, Jawa Timur, belum lama ini.

Dijelaskan, para penganut paham Liberalisme, pluralisme, komunime, di Indonesia saling bergandeng tangan untuk menghadapi Islam. Karena menurut Abu Deedat, Liberalisme, Pluralismme, dan komunisme,  perusak Islam dan telah mengacak-acak Islam dengan mengatasnamakan liberalisme dan pluralisme.

Ia mencontohkan saat  pemerintah kota Bekasi melakukan penyegelan terhadap rumah ibadah Ahmadiyah di Jati Bening Bekasi, setelah Pemerintah kota Bekasi mendapat fatwa dari MUI, kalau Ahmadiyah adalah aliran sesat, yang hadir membela Ahmadiyah mati-matian adalah mereka yang selama ini berada di kelompok liberal, dan plural, seperti dari Wahid Institut.

Selain getol membela kelompok aliran sesat, penganut paham liberalisme, dan pluralisme, juga sangat aktif mengadvokasi kelompok Lesbian, Gay, Bisek, dan Taransgender (LGBT). Diantara tokoh yang membela LGBT adalah Musda Mulia, wanita berjilbab tapi pemikiran liberal bahkan berani melawan wahyu Allah.

"Karena kegigihanya membela LGBT, dan menyetujui hubungan seksual sesama jenis (homoseksual) dan  menolak poligami,  ia mendapat penghargaan dari Barat."  tutur Abu Deedat.

Dikatakan, perkembangan paham liberal, pluralisme dan komunisme, di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Karena kelompok ini terus melakukan manuver seperti menggugaat UU perkawinan, yang menolak perkawinan sejenis karena dalam UU perkawinan itu disebut secara eksplisit  persyaratan pernikahan harus ada  calon penganten laki-laki dan calon penganten perempuan.

"Ini tentu bertentangan dengan pernikahan sejenis. Karena pernikahan sejenis bisa saja pengantennya sesama laki-laki atau sesama perempuan. Dan ini,  tak memenuhi syarat dalam Undang Undang Perkawinan." Jelas Abu Deedat.

Tuntutan lain lanjutnya adalah  dibolehkannya penikahan berbeda agama. Dalam UU Perkawinan, nikah beda agama tidak dibenarkan. Kelompok liberalimes dan pluralisme menuntut agar pernikahan beda agama diizinkan.

Perlu dicermati, ketika Mahkamah Agung  Amerika Serikat menyetujui perkawinan sejenis, ternyata di Indonesia banyak artis yang mendukung  sikap Mahkamah Agung Amerika Serikat itu. Ada artis yang menulis dalam akunnya  mendukung perkawinan sejenis. (al/mhd)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama