» »Unlabelled » Satop ARMINA Gelar Rekonstruksi Peristiwa Mina

MAKKAH - Peristiwa jamaah berdesakan di jalan Arab 204 terjadi pada Kamis (24/09) lalu. Banyak jamaah haji yang wafat pada perisitiwa itu, termasuk 95 jamaah haji Indonesia yang jenazahnya sudah teridentifikasi sampai dengan hari ini, Minggu (04/10).

Satuan Operasional Arafah – Muzdalifah – Mina (Satop ARMINA) terus menggali informasi seputar penyebab terjadinya peristiwa tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggali informasi dari keluarga korban dan juga melakukan rekonstruksi kejadian dengan menghadirkan jamaah yang mengalami peristiwa tersebut.

"Kita dari Satop ARMINA sudah mengumpulkan para ketua kloter dan jamaah yang kehilangan saudaranya. Dari situ kita ingin mengetahui apa sih sebenarnya penyebab dari kejadian itu," terang Kepala Satop ARMINA Abu Haris dalam kesempatan wawancara di Daker Makkah, Kamis (0/10) lalu.

Abu Haris mengatakan bahwa  Kementerian Agama secara resmi  bersurat kepada Kerajaan Arab Saudi untuk memohon klarifikasi tentang penyebab kejadian itu. Meski demikian, Satop Armina berinisiatif untuk mengajak beberapa jamaah guna melakukan rekonstruksi kejadian. "Perjalanan dari mana kemudian dibelokkan ke mana,  sampai di titik mana  berdesakan, kapan mulai ada  orang-orang yang  naik tenda, dan sebagainya. Ini akan kita analisis," terang Abu Haris.

Kamis (01/10), Abu Haris bersama Kepala Bidang Keamanan Tri Budi mengajak dua jamaah dari kloter 48 Embarkasi Surabaya (SUB 48) yang berada di tempat kejadian, untuk melakukan rekonstruksi peristiwa. Tim Media Center Haji (MCH) ikut hadir dan mengabadikan proses penggalian informasi tersebut.

Dari kedua orang itu, diperoleh informasi bahwa jalan 204 yang menjadi tempat kejadian bukanlah jalur jamaah haji Indonesia. Mengulang apa yang disampaikan kedua jamaah dari SUB 48, Abu Haris menjelaskan bahwa jamaah SUB 48  pada saat itu melalui Tharik Malik Fahd yang membentang dari Mina Jadid sampai jamarat. Sebelum sampai di Jamarat, tepatnya ketika sampai pertigaan jalan 23,  mereka dibelokan ke arah kiri karena Tharik Malik Fahd ditutup.

Menyusuri jalan 23 itu, lanjut Abu Haris, jamaah SUB 48 kemudian bertemu dengan  kelompok Arab yang datang melalui bawah jembatan yang ada di sisi kiri jalan itu dan tidak jauh dari pertigaan jalan 204. Tidak lama kemudian, mereka juga bertemu dengan jamaah haji yang datang dari arah berlawanan dengan mereka. Ketiga kelompok jamaah yang datang dari tiga arah berlawanan itu kemudian dibelokkan  ke jalan 204 secara bersamaan.

"Jadi, di Jalan 204 yang merupakan tempat peristiwa itu ada tiga arus yang masuk ke situ.  Kita bisa membayangkan bagaimana kalau lebar jalan segitu kemudian dipenuhi oleh tiga arus," jelas Abu Haris.

Para jamaah pun sudah berdesakan sejak awal jalan 204 menuju ke arah Jamarat. Sayang, lanjut Abu Haris, informasi  persis terkait kejadian yang ada di ujung jalan 204, menjelang sampai ke jamarat, belum bisa digali karena salah satu dari kedua jamaah SUB 48 itu sudah pingsan, sementara yang satunya mengambil jalur berbeda untuk menyelamatkan diri.

"Apakah ditutup atau ada mobil yang menghalangi atau  karena macam-macam,  ini masih kita cari. Ada juga informasi tentang kursi roda yang katanya kejempit dan menghalangi jalannya jamaah dan sebagainya. Juga  informasi tentang penutupan jalan. Ini kita belum sampai ke sana," katanya.

"Karena sampai pada pertigaan terakhir, yang bersangkutan sudah tidak sadar," tambahnya.

Satop Armina akan terus  berusaha mencari informasi dari jamaah lain, misalnya dari JKS 61, yang  bisa melewati jalan 204 sampai  ke jamrat. Informasi-informasi yang berhasi dihimpun itu akan  dijadikan data dan bahan evaluasi ke depan, untuk lebih mengetahui jalan-jalan mana yang tidak terlalu rawan untuk jamaah haji Indonesia. (al/ag/cep)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama